percaya nggak kalo jantung yang udah mati bisa dihidupin lagi..? kalau nggak percaya, sebaiknya lu liat nih hasil penelitian Doris Taylor dari Pusat Penyembuhan Kardiovaskuler Universitas Minnesota, AS dan Dr Harold Otto dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, AS berikut ini. mereka itu udak melakukan penelitian selama 4 tahun dan berhasil membuat ketidakmungkinan itu jadi mungkin. melalui serangkaian percobaan di laboratorium, tim ini berhasil membuat jantung tikus yang sudah mati, berdenyut dan berkerja lagi.
dalam percobaan tsb, mereka mengambil seluruh sel jantung tikus yang telah mati. yang disisakan hanya struktur lunak jaringan kolagen jantung saja, melalui teknik yang namanya deselulerisasi.
jantung mati yang telah dibersihkan tsb kemudian disuntikkan sel-sel yg berasal dari tikus yg baru lahir. sel tsb dibiarin tumbuh dan mengikat jaringan kolagen diatas cairan bernutrisi dalam ruangan khusus laboratorium.
menakjubkan, setelah 4 hari kemudian, jantung tsb dapat kembali berdenyut seperti jantung milik tikug yg masih hidup. peneliti tsb lalu menggunakan alat pacu jantung (pacemaker) untuk mengukur arah gerakan kontraksinya. mereka juga merangsang jantung untuk memompa, mengalirkan cairan bertekanan kedalamnya meniru aliran darah di dalam tubuh. delapan hari kemudian, jantung yg dihidupkan kembali mulai dapat memompa cairan tsb dg sempurna.
peneliti tsb yakin kalo alam telah menciptakan alat-alat yg sempurna dan mereka penasaran apakah ada cara di laboratorium untuk memberikan alat-alat yg dibutuhkan dan membiarkan alam yg bekerja. alat yg dimaksud adalah jaringan kolagen, fibronacin, dan laminin. peneliti tsb membuat metode ini untuk membuat jaringan pembuluh jantung, pembuluh darah dan organ lainya. teknik ini suatu saat diharapkan dapat dipakai untuk membuat organ transplantasi dan sel-sel tubuh pasien itu sendiri, sehingga penolakan tubuh terhadap organ transplantasi yang sering ditemui selama ini dapat dikurangi.
harapan kita sih sih supaya dapat membuat organ yang sesuai dengan tubuh kita. tapi tentu saja, jalan masih panjang…
sumber : kompas/livescience/P’Mails